Positive Info

Semoga informasi-informasi di blog ini bermanfaat untuk kita semua. Amin.

Tawurji di Cirebon

Posted by akiteha pada Februari 19, 2008

 tawurji.jpg

Ada suatu tradisi di daerah Cirebon dan sekitarnya, setiap bulan Safar terlihat anak-anak usia sekolah (SD, SMP), biasanya anak laki-laki berselendangkan sarung dan berpeci, berkeliling mendatangi orang-orang di keramaian, ke toko-toko atau mendatangi ke perumahan-perumahan untuk “meminta sedekah” sambil bersenandung: “Wur tawur Ji, tawur ….. selamet dawa umur” yang dilantunkan berulang-ulang. Masyarakat Cirebon dan sekitarnya menyebut tradisi ini dengan Tawurji asal kata tawur dan ji.

Biasanya, orang-orang dikeramaian itu atau toko-toko yang mereka datangi atau yang diperumahan-perumahan, apalagi yang mengetahui tradisi bulan Safar tersebut, dengan sukarela memberikan sedekah, umumnya berupa uang.

Dulu, sampai dengan tahun 1970-an, tawurji hanya dilakukan pada setiap hari Selasa di bulan Safar, tetapi kini kadangkala dilakukan di sembarang hari. Beberapa referensi menyatakan setiap hari Rabu, tetapi pernyataan hari Selasa lebih kuat.

Sebenarnya ada apa dibalik tradisi bulan Safar tersebut?

Tulisan ini terinspirasi berdasarkan email dari kang Sueb Aidi, yang katanya beliau juga mendapatkannya dari rekan Elang Rachman yang menjadi Pandito di Sumber, suatu daerah di sebelah Barat kota Cirebon. Dan ditambah tulisan-tulisan dari sumber/referensi lain.

Tradisi bulan Safar, masyarakat Cirebon biasa menyebut Safaran, erat kaitannya dengan mitos dimusnahkannya ajaran Syeh Siti Jenar alias Syeh Lemahabang atau Syeh Jabaranta yang konon dianggap ajarannya dapat menyesatkan umat Islam. Dari mitor ini lahirlah 3 (tiga) tradisi di Cirebon, yaitu: Tawurji, Selamatan kue apem dan Ngirab (semacam mandi di kali/sungai).

Ketika Syeh Siti Jenar di eksekusi pada bulan Safar 5 abad yang lalu, maka ke 40 anak asuhnya yang yatim itu menjadi terlantar. Dewan 9 wali (wali sanga) memutuskan agar setiap masyarakat (rumah) di Cirebon dan sekitarnya untuk memberikan perhatian dan santunan kepada ke 40 anak yatim tersebut.

Maka, ke 40 anak yatim tersebut setiap hari Selasa pada bulan Safar berkeliling dari rumah ke rumah sambil mendendangkan senandung do’a: “Wur tawur Ji, tawur ….. selamet dawa umur” yang artinya “Sawer Tuan Kaji … sawer, selamat panjang umur“. Tuan Kaji (haji) kedudukannya sangat terhormat di masyarakat saat itu, jadi anak-anak menyebut kesemua orang “Ji” kependekan dari Kaji, sebagai rasa hormat dan juga mengandung do’a bagi yang belum berhaji, insya Allah suatu saat juga dapat menunaikan ibadah haji.

Do’a anak-anak yatim itu manjur“, demikian tutur para wali, “Masyarakat harus memberi saweran“. Denikianlah tradisi Tawurji dibulan Safar sampai hari Selasa akhir di bulan itu, keesokan harinya dirayakan “Rebo Wekasan” (hari Rabu terakhir di bulan Safar), dengan melakukan Shalat Sunat 2 rakaat untuk tolak bala (petaka) dan kemudian bersiap-siap menyongsong perayaan Maulid Nabi (Muludan). Berabad-abad tradisi tawurji ini berjalan hingga sekarang yang merupakan amanah suci para wali untuk menangkal malapetaka.

Dalam ajaran agama Islam menyantuni fakir miskin dan anak yatim sangat jelas di sebutkan dalam Al Qur’an, Surat Al Maauun, ayat: 1 – 3 yang berbunyi:

image001.gif

image002.gif

image003.gif

  1. Tahukan kamu (orang) yang mendustakan agama?
  2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
  3. dan tidak (menganjurkan) memberi makan orang miskin

Jadi, apabila kita diberi kelonggaran rizki yang dititipkan Allah kepada kita, seyogyanya kita maklum bahwa di dalamnya ada haknya anak yatim dan orang miskin, maka santunilah anak yatim dan orang miskin karena mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita.

Semoga kita diberi kekuatan, kemampuan dan di ridhoi Allah SWT, Amin 

6 Tanggapan to “Tawurji di Cirebon”

  1. Wah Kang, wa’asnya. Inget dulu di Cirebon,

  2. TH said

    @ rumahkayubekas
    betul sekali … da tadi nulis ge asa lami …. banyakan ngalamun, kebayang nu disolendang sarung, make kopeah, dengan wajah tanpa ekspresi sambil ngalantunkeun “tawurji”, … gak lama kemudian di rumah sok aya kue apem, dan yang paling ditunggu …. sore/malem ka kanoman … muludan … wa’as.

  3. Budi Rekso said

    Hehehe…cuman sekarang jadi alat minta-minta terus…gada kemajuannya…tawur Ji…tawur…selamat dawa umur….

  4. TH said

    @ Budi Rekso
    Benul … eh betul sekali, sama seperti komentarnya “Embi C Noer” di buku tamunya Sutikno Center … itu tantangan bagi Pemkot Cirebon, jangan sampai “Tawurji” yang merupakan amanah suci para wali berubah menjadi alat minta-minta.
    Priben kih wong Cerbon? aja meneng bae sih. Kesuwun.

  5. antown said

    saya jadi pingin main ke cirebon nih, tapi dari salah satu situs yang saya kunjungi katanya cirebon kota terkotor di Indonesia. bener nggak ya? masuk pada peringkat seratus sekian gitu.
    ayo dunk dibersihkan lagi kotanya biar banyak wisatawannya…

    antown.cblogspot.com

  6. antown said

    Sebenarnya ngomong masalah kesadaran sih kalo mau kota kita tampak rapi dan enak dipandang. Lha kalau gorong2 tidak pernah dilakukan pembersihan dan trotoar dijadikan tempat jualan?? jadi nggak enak kan??

    salam,
    antown.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: