Positive Info

Semoga informasi-informasi di blog ini bermanfaat untuk kita semua. Amin.

Saatnya Publik Bersuara

Posted by akiteha pada Desember 25, 2007

kampus-utama3.jpg 

oleh: Dewi Irma – kampus_pr@yahoo.com 

With the evolution of the internet and other technologies, the universe of people who can contribute information to the public debate, has greatly expanded. The line between traditional media and citizen journalists continues to blur, as both take advantage of all the possibilities the internet has to offer (Mary-Rose Papandrea).

SEKITAR tahun 1997, seorang bernama John Barger memperkenalkan istilah weblog, yang merujuk pada kelompok situs pribadi yang diperkini secara berkala. Kata itu kemudian disingkat menjadi blog yang cepat populer. Tadinya, blog sekadar daftar pranala yang disukai pemiliknya, beserta sedikit catatan. Kini, blog telah menjadi medium ekspresif tempat setiap orang bisa membagi cerita tentang apa yang dia pikirkan dan kerjakan, kemudian ditanggapi orang lain secara online.

Di Indonesia, blog telah menjadi salah satu medium berekspresi yang diminati banyak orang. Tak kurang ada 130.000 pengguna blog di Indonesia kini. Jumlah itu diyakini akan terus berlipat ganda, seiring berbagai kemudahan seperti fasilitas gratis membuat blog yang banyak tersedia, dan cara membuatnya yang juga semakin mudah. Demi menciptakan iklim nge-blog yang positif di Indonesia, beberapa inisiator pun mencuatkan ide untuk menggelar pertemuan blogger berskala nasional. Jadilah acara “Pesta Blogger 2007” yang digelar di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (27/10), dengan mengangkat tema “Suara Baru Indonesia”. Seperti apa acaranya?

Meriah. Peserta datang dari berbagai daerah dan latar belakang, baik secara individu maupun komunitas blogger, seperti Angin Mammiri dari Makassar, Loempia dari Semarang, Bandung Blog Village dari Bandung, Go RanahMinang dari Padang, Angkringan dan Cah Andong dari Yogyakarta, Tukang Lenong dari Jakarta, Komunitas Blogger Muslim, Merdeka, Blogfam, Multiply Indonesia, IdGmail!, bahkan dari Kuala Lumpur (Malaysia). Peserta tercatat ada 500 orang –belum termasuk yang menonton via video streaming online. Padahal, target semula panitia untuk 200 orang.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Mohammad Nuh mendukung positif acara tersebut. Ia menyatakan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Pihaknya memberikan apresiasi positif pada komunitas blogger dan menjamin tidak akan ada pemberedelan terdahap blog. “Sudah bukan zamannya lagi ada batasan seperti itu. Yang ada adalah semangat memberikan kontribusi terbaik. Para blogger diharapkan bisa memberi kontribusi bersifat edukatif, pencerahan, dan pemberdayaan,” kata Muhammad Nuh.

Hari itu memang menyisakan berbagai catatan menarik. Selain kopi darat dan torehan sejarah berupa pencanangan hari, setidaknya kesadaran atas kekuatan medium blog semakin terbangun. “Generasi baru yang menggunakan medium baru (blog) untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan pendapatnya, mulai membentuk kekuatan baru di internet. Muncul attitude yang lebih transparan dan terbuka,” ujar Enda Nasution, chairman acara “Pesta Blogger 2007”. Selain Enda, para penggagas acara lainnya yang duduk dalam steering committee adalah Budi Putra, Fatih Syuhud, Lita Mariana, Nukman Luthfie, Priyadi Nurcahyo, Ratna Ariyanti (Atta), Wicaksono, Wimar Witoelar, dan Yosef Ardi.

Setelah acara diawali dengan talkshow mengenai dunia blog Indonesia yang dipandu oleh Wimar Witoelar dengan pembicara Budi Putra, Enda Nasution, dan Adrianto Gani, acara selanjutnya adalah break out session, berupa bincang-bincang antar-blogger dalam 7 kategori, yakni, online marketing dan sales, current issues, women’s issues, teknologi, blog personal, blog selebriti, dan bridge blogging (blog dalam bahasa Inggris), yang dipandu para blogger ternama (keterangan di http://www.pestablogger.com).

Menurut Enda, pengguna blog berlipat setiap 6 bulan sekali. Bukan tidak mungkin, tahun depan mencapai satu juta pengguna blog. Di sisi lain, menyadari pengaruh positif blog untuk pemberdayaan masyarakat, dibutuhkan pula biaya internet yang semakin murah. “Pemerintah sampai kini memang belum punya regulasi harga internet, tapi berdasarkan kompetisi ISP, maka pertanyaannya bukan lagi harga internet bisa turun atau tidak, tapi kapan?” kata Enda. Ia mengusulkan hadirnya blog center, sebagai tempat perkembangan dan advokasi para blogger.

Para blogger di Indonesia relatif masih dapat berekspresi dan memperdengarkan suaranya secara bebas. “Untuk di Asia, di Indonesia sudah termasuk hebat, minimal tidak ada yang diberedel. Di Malaysia, ada dua orang blogger yang diajukan ke pengadilan. Di India pemerintahnya sempat memblokir blogspot, di Cina ada satu orang blogger yang dipenjara. Dari segi politik, di Indonesia tidak ada masalah, tinggal bagaimana para blogger memanfaatkan opportunity ini,” ucap Budi Putra.

Cukup banyak blogger yang semula tak meyadari kedahsyatan efek blog. Ada pengalaman beberapa blogger yang tiba-tiba dihubungi penerbit karena tertarik tulisan-tulisannya di blog, seperti Ira Lathief, blogger asal Jakarta. Ia ketiban rezeki ditawari menyusun buku tentang pelawak Tukul. Ada juga yang diminta tulisan blog-nya untuk dijadikan tayangan televisi, seperti dialami Amril Taufiq.

Yang berbuah kurang mengenakkan, Nila Tanzil, misalnya. Ia pernah mengritik pariwisata di Malaysia di blog-nya, sehingga sempat membuat berang menteri Malaysia, dan kehilangan side job sebagai presenter di salah satu televisi swasta. “Tapi nggak usah takut berkata benar.,” kata Nila.

Menurut Wicaksono, blogger yang dikenal lewat blog Ndorokakung, blog pun bisa membuka lapangan kerja baru, seperti ahli online marketing. Selain itu, berjualan di dunia maya juga jadi peluang menarik. Ia mencontohkan Kutubuku.com, yang mampu meraup transaksi sampai Rp 45 juta per bulan.

“Kalau bisa bikin blog berkualitas yang pengunjungnya banyak, bukan tidak mungkin blog kita dapat tawaran iklan,” katanya.

Selain keindahan desain, menurut Budi Putra, blog berkualitas sebenarnya ditentukan oleh content-nya. “Percuma kalau desain bagus, tapi isinya kurang bermutu,” katanya. Namun, menurut Wimar Witoelar, bermutu atau tidak bermutu, yang penting berani bersuara. “Blogger harus punya sikap, berani menyatakan sikap dan berani menanggung konsekuensinya,” ucap Wimar.

Jurnalisme warga

Melalui kehadiran internet (blog), wajah jurnalisme pun semakin bervariasi. Kini, muncul konsep jurnalisme warga (citizen journalism) berbasis internet. Blog Ohmynews di Korea yang didirikan Kim Soung Su, misalnya, bisa jadi contoh sukses media alternatif yang berpengaruh di negerinya. Di Indonesia pun mulai bermunculan blog-blog serupa. “Dasarnya ingin menjadi jembatan informasi yang kental kedekatannya,” kata Adrianto Gani, pengelola Wikimu.com, sebuah portal komunitas asal Jakarta, yang mengusung konsep partisipatif.

Menurut Adrianto, Wikimu resminya bukan situs berita, walau berisi aneka ragam informasi. Di sini, siapa pun bisa mendapatkan dan mengirimkan informasi. Sampai kini, Wikimu memiliki member sekitar 400 orang. Kapan saja bisa mem-posting artikelnya, tak mesti menunggu dimuat di media massa konvensional. “Ada suntingan dari kita, tapi tidak banyak, asal tulisannya tidak rawan saja,” kata Adrianto.

Fenomena warga biasa menjadi pewarta ini pun memunculkan perdebatan soal kredibilitas dan akurasi. Menurut Budi Putra, mantan wartawan yang beralih menjadi penulis independen dan full-time blogger, sebenarnya tergantung pilihan blog atau situs yang mengusung konsep jurnalisme warga itu sendiri. Ingin sekadar bagi-bagi cerita, atau memuat informasi yang cukup krusial? “Kalau memuat berita serius, memang perlu perhatian lebih, minimal tahu soal konfirmasilah. Dia juga harus menaati tata cara, minimal 5W dan 1H,” ucapnya.

Perkembangan blog, bagi Budi Putra, sejalan dengan ide kebebasan berpendapat dan penyebaran penerangan yang biasa ada dalam kontsitusi negara-negara demokrasi. Lalu, apakah kehadiran blog merupakan tantangan terhadap “media tradisional”? “Mungkin pada tingkat tertentu, iya, tapi bukan berarti ancaman. Sebab, khalayaknya beda. Kalau berita eksklusif, orang masih cari media mainstream, tapi kalau mau personal, bisa cari di blog. Seharusnya media massa berusaha memanfaatkan itu, untuk mengikuti trend yang ada dan tetap bertahan, dengan bikin community blogger, misalnya,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: