Positive Info

Semoga informasi-informasi di blog ini bermanfaat untuk kita semua. Amin.

“Ritual Bumi” Versus Pemanasan Global

Posted by akiteha pada Desember 25, 2007

khazanah-utama1.jpg

oleh: F.X. WIDARYANTO, Pengajar STSI Bandung.

GEJALA pemanasan global sudah semakin nyata di depan mata. Lihat fenomena banjir rob (pasang naik) yang terus menggejolak serta tak dapat secara serta-merta ditanggulangi.

Pantai utara Jakarta dan Banten (terutama Cengkareng), misalnya, kedua tempat ini dewasa ini tak lagi bisa mengandalkan perisai alam berupa tumbuhan bakaunya karena kedua tempat ini sangat rentan terhadap permasalahan air pasang. Berkali-kali terjadi banjir yang memacetkan jalan tol menuju bandara internasional. Tentu saja berpengaruh dan merugikan mobilitas para pelaku bisnis.

Secara internal, bumi pun mulai menunjukkan kegiatan “pemanasannya”. Hal ini bisa ditengarai dari berbagai aktivitas gunung berapi di berbagai pulau di Indonesia, yang keberadaannya memang terletak dalam deret melingkar yang sering disebut dengan ring of fire. Belum lagi letak negeri ini yang berada di atas pertemuan lempeng bumi yang terus menunjukkan geraknya dalam berbagai gejala gempa bumi dan tsunami di berbagai wilayah akhir-akhir ini.

Soal-soal itu sedikitnya telah mengganggu ketenteraman hidup manusia dan mulai mengusik perkara keterasingan manusia dari lingkungan di sekitarnya. Apalagi bila dikaitkan dengan emisi karbon di berbagai kota besar yang kadang sudah melampaui ambang batas aman. Sehingga orang-orang yang berada di jalanan akan mengalami keracunan terus-menerus sepanjang hayatnya.

Polisi lalu lintas yang harus berjaga dan memakai masker terasa tidak nyaman karena dalam waktu yang sama harus membunyikan peluitnya untuk mengatur lalu lintas yang tak kalah kacaunya dengan kualitas udara yang melingkupinya. Masalahnya, pohon-pohonan sebagai kanopi kota yang melindungi penduduknya dari bahaya emisi karbon tak sepadan dengan sumber karbon monoksida alias buangan knalpot kendaraan yang berlalu-lalang sepanjang jalan yang sepertinya tak terbendung penambahan jumlahnya sepanjang tahun.

Dari fenomena negatif di atas, ada secercah kesadaran dari salah seorang mahasiswa STSI Bandung yang dalam resital karya seninya menampilkan karya “Ritual Bumi,” yang diselenggarakan pada tanggal 8 Desember 2007 yang lalu di Gedung Sunan Ambu STSI Bandung. Karya yang diciptakan oleh Dadan ini memberikan berbagai sodoran ikon visual yang tajam dalam struktur perlambangan yang matang. Tak ada pretensi untuk menggali identitas kolektif yang dimilikinya.

Dengan demikian, aksentuasi peristiwa ritual serupa di kampungnya di Subang, dilakukannya tidak dalam semangat mimesis di masa lalu, tetapi dalam representasi ikon yang mengingatkan kita pada konsep eternal soil energy yang tertuang dalam bentuk bangun kerucut dalam berbagai ukuran.

Ia mencoba mengali kekuatan bangun bentuk kerucut ini dalam berbagai rajutan gerak, kadang diungkapkan secara kuat dalam laku asketik yang muncul dari paradoks kekuatannya mengayomi dari atas, sementara dirinya harus menanggung bara kekuatan bumi yang membakar dirinya.

Di sisi lain, kerucut dalam wujud kukusan itu memiliki citra energi yang mengubah beras menjadi nasi, yang sangat dibutuhkan untuk energi kehidupan kita sehari-hari. Hal ini juga digunakan oleh Garin Nugraha dalam filmnya “Opera Jawa” yang menggambarkan betapa salah seorang tokoh utamanya Siti (Artika Sari Dewi), istri Setyo (Miroto), selalu didera dengan puluhan kukusan karena kekhawatirannya akan tiadanya beras yang harus ditanaknya hari itu.

Di saat lain ia sangat mendambakannya dengan menari sambil membawa kukusan dengan hormat yang cukup tinggi. Di saat lain, naluri keakraban kedua insan ini dengan sawah dimunculkan dengan dilumurinya Siti (yang berarti tanah) dengan lumpur sebagai bagian dari ritual bumi yang terwujud dalam representasi dirinya sendiri.

Kajian energi tanah ini sungguh menarik bila dikaitkan dengan kesadaran purbawi manusia yang bisa ditengarai sampai dengan kehidupan sinkronik di masa kini. Tanah dicangkul/dibajak alias dibalik untuk mendapatkan sinar matahari sehingga didapatkan tingkat keasaman tertentu dan menjadi humus yang memberikan energi kehidupan bagi padi yang ditanamnya. Setelah melalui proses pertumbuhan dan kematangan diri, padi dipanen dan menjadi bagian dari energi tubuh yang terus-menerus dibutuhkan manusia sepanjang hayat, mulai dari manusia lahir, dewasa, kawin, dan akhirnya saat manusia mati dikembalikan lagi ke tanah.

Energi inilah yang terus disadari oleh para petani pengolah sawah yang secara langsung terus berhubungan senyata-nyatanya secara fisik dengan “kekotoran” tanah namun sekaligus kejernihan energi yang terus-menerus dirawatnya.

Dalam merawat kehidupan di atas, banyak sekali hal yang dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat. Di Banyuwangi, misalnya, ada yang disebut dengan kebo-keboan di mana para petani pada suatu saat membenamkan dirinya bak kerbau yang kemudian juga menarik mata-bajak sebagai bagian dari empatinya terhadap kerbau yang bekerja keras membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Keberadaan mereka sebagai “kerbau” adalah bagian dari paradoks dunia bawah di satu sisi yang dipertemukan dengan Dewi Sri dengan padi indungnya di sisi lain.

Fenomena ini juga telah menarik perhatian Sardono W. Kusumo pada tahun 1979 dengan karya “Metaekologi” yang dijejerkan di teater terbuka dengan karya-karya Alvin Nikolai di Taman Ismail Marzuki. Kala itu, teater halaman disulap menjadi sawah. Dengan sesekali diiringi gender oleh Anderson Sutton, beberapa sosok penari berjalan di galangan sawah tersebut, secara acak mereka menjatuhkan diri dalam lumpur dan dalam sekejap tampak adanya sosok-sosok purbawi dalam rupa “patung-patung batu” yang di saat lain tiba-tiba terlihat sudah ada di atas tonggak-tonggak bambu yang dibangun di pinggir-pinggir sawah tersebut. Tampak mereka mewujud dalam sebuah representasi sebagai bagian dari totem-totem yang berfungsi menjaga keharmonisan hubungan antarenergi yang terbangun dalam berbagai rupa di atas.

Ada peristiwa menarik di tahun ini yang dicatat oleh Afrizal Malna, yaitu salah satu forum di Padepokan Lemah Putih Solo, pada bulan Maret yang lalu, yang menyebut dirinya dengan “Undisclosure Territory” yang diikuti oleh sejumlah seniman dari berbagai negeri, antara lain dari Jerman, Swiss, Amerika, Indonesia, Thailand, Filipina, Slowakia, Kanada, Australia, Irlandia, dan Austria.

Forum ini mencoba membuat aksentuasi relasi antara manusia dan lingkungan di sekitarnya, meski hal itu tetap tak diupayakan untuk bisa tersingkap menjadi sebuah kejelasan representasi dari para penyajinya. Catatan Afrizal menyebutkan, kala seorang Barbara Sturm dari Swiss yang mencoba membuat sebuah lubang galian dan menyusupkan kepalanya yang botak dengan posisi tubuh terbalik. Kaki yang biasanya berjalan dipaksanya untuk bisa melihat dan kepalanya yang terbenam seakan berusaha menjadi akar.

Karya tubuh yang menurut Afrizal dikatakan belum selesai ini, seakan ingin “mewujudkan” dirinya menjadi pohon. Sekilas hal ini terasa aneh, namun sungguh sebuah laku yang cerdas dalam menatap bumi yang semakin hari semakin kehilangan pepohonan, sehingga tak lagi ada kesempatan tumbuhnya pepohonan yang pada saatnya akan berfungsi sebagai reservoir air bagi berbagai wilayah di Indonesia.

Kesadaran lingkungan seperti ini juga ditorehkan STSI Bandung dalam Festival Kesenian Indonesia V BKS Perguruan Tinggi Seni se-Indonesia di Denpasar akhir November lalu. Rahman Saleh memunculkan gagasan tentang penyelamatan lingkungan melalui karya pertunjukan “Perahu Noah”, dengan puluhan penari dan bangun perahunya yang fenomenal karena ukurannya yang besar, sehingga pertunjukannya sengaja mengambil venues outdoor, di kampus ISI Denpasar.

Dari berbagai pertunjukan sepanjang tahun 2007 ini nampak bahwa adanya kecenderungan positif yang mengarah pada kesadaran baru tentang lingkungan, yang pada action ranah pengambil keputusan, juga ditunjang dengan penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim di Nusa Dua Bali, yang meskipun alot, memberikan darah baru dalam menyikapi kualitas hubungan insan manusia dengan alam di sekitarnya.

Mahatma Gandhi serara arif mengungkapkan bahwa “Yang disediakan bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, namun tidak cukup untuk memenuhi keserakahan satu orang.” Ungkapan yang dicutat dari catatan Goenawan Mohamad yang memetik pernyataan Pachauri ini, memancar sangat kuat dan sangat relevan dengan aksentuasi respek insan terhadap bumi yang dewasa ini terluka dan mengalami derita yang sangat karena ulah manusia serakah yang tinggal di atasnya.***

 

2 Tanggapan to ““Ritual Bumi” Versus Pemanasan Global”

  1. Nyiz_disya said

    I think the same of opinion,,,

    Setuju bGd sm koment di atas !!!!

    Lakukan banyak hal untuk mengurangi pemanasan global….

    Jiayo!!

  2. selvi said

    “Yang disediakan bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, namun tidak cukup untuk memenuhi keserakahan satu orang.”

    keren jugyaaaa…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: