Positive Info

Semoga informasi-informasi di blog ini bermanfaat untuk kita semua. Amin.

Sengkarut Parkir Kampus

Posted by akiteha pada Desember 25, 2007

kampus-utama.jpg 

oleh: Agus Rakasiwi, kampus_pr@yahoo.com

Sejak kebijakan otonomi perguruan tinggi, pejabat kampus mulai bingung dengan parkir mobil mewah mahasiswa. Alih-alih menyedot uang masuk, kini kampus dituntut membikin gedung parkir. Sebuah “moral hazard” institusi pendidikan?

Awal Juni 2007, sebagian mahasiswa ITB yang membawa kendaraan bermotor (mobil atau sepeda motor) dibuat terkaget-kaget. Pasalnya, sejak hari itu dan seterusnya, kendaraan mahasiswa tidak boleh lagi masuk kampus.

Peraturan baru dari Biro Sarana dan Prasarana ITB menetapkan yang bisa masuk-keluar kampus adalah yang memiliki kartu identitas pegawai. Mahasiswa tidak mungkin masuk dengan kartu tersebut karena mereka bukan pegawai ITB. Mereka hanya diperkenankan parkir di kantong-kantong yang telah disediakan. Misalnya, di sebelah utara, Aula Barat, Timur, dan Sasana Budaya Ganesha, dengan total kapasitas untuk 451 kendaraan.

Situs http://www.itd.ac.id melukiskan hari itu seperti hari perdebatan di gerbang kampus. Sering harus terjadi diskusi yang alot antara petugas satpam dan warga ITB yang hendak masuk kampus. Di hari-hari berikutnya protes mahasiswa terus berlanjut. Surat kaleng pun bermunculan. Pers mahasiswa Boulevard pada terbitannya Agustus lalu, menggambarkan terdapat tempelan kecil berwarna kuning di pilar-pilar gedung kampus, seperti di Laboratorium Teknologi (Labtek) XI.

“Bermasalah dengan tempat parkir? Bermasalah dengan kebebasan Berorganisasi?” Ditambah jawaban yang ditulis dengan tinta, “Ya”. Tulisan itu menempel tanpa keterangan identitas. Seolah mahasiswa yang melakukan protes itu, jati dirinya tidak ingin diketahui orang banyak.

Hanya keluh. Mahasiswa ITB beradaptasi dengan aturan tersebut dengan memakan korban lain. Di Jln. Ganesha, badan jalan menjadi tempat parkir mahasiswa. Begitu pula di badan jalan Jln. Tamansari, antara Kebun Binatang dengan Sasana Budaya Ganesha. Di kampus-kampus lain tempat parkir tidak mampu mengakomodasi beban parkir kendaraan mahasiswa. Akibatnya, fasilitas umum (fasum) menjadi korban.

Tengok Jln. Hasanuddin dan Jln. Teuku Umar. Jalan di sebelah selatan dan utara kampus Univesitas Padjadjaran (Unpad) itu fungsinya berubah menjadi parkir mobil dan motor mahasiswa. Unpad di Dipati Ukur hanya mampu menampung sekitar 150 mobil di utara dan sekitar 40 mobil di selatan. Parkir mahasiswa tidak hanya di badan jalan. Namun sudah bisa naik ke trotoar. Di jalan ini memang trotoar sudah lama tidak berfungsi sebagai area pedestrian (pejalan kaki). Sebelum mobil naik ke trotoar, sudah lama jalur pejalan kaki ini “diperkosa” pedagang kaki lima (PKL) .

Sejauh Kampus telusuri, masyarakat yang tinggal berdampingan dengan kampus mengeluh karena akses keluar rumahnya terhalang parkir mahasiswa. Spontan banyak rumah yang mulai menaruh papan peringatan “Dilarang parkir di depan gerbang”. Di Jln. Dipati Ukur terdapat dua kampus yang baru saja berdiri memasuki era 2000-an. Sebelum kampus berdiri, tamu-tamu pertokoan di jalan tersebut memang sudah parkir di badan jalan. Kini, jumlahnya ditambah dengan kendaraan mahasiswa. Pada jam-jam tertentu, jalan menjadi macet karena keluar masuk kendaraan dan angkutan kota yang berhenti menanti mahasiswa.

Begitu pula dengan di ruas Jln. Suria Sumantri. Di sini berbaur pertokoan, sekolah, dan Universitas Kristen Maranatha. Di jam-jam tertentu, keluar masuk kendaraan dan parkir di badan jalan memacetkan arus lalu lintas di area tersebut. Kondisi yang hampir mirip terjadi di Universitas Parahyangan yang terletak di Jln. Ciumbuleuit. Selain itu, di Jln. Tamansari Bawah mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Pasundan (Unpas) seperti mendapat keistimewaan menggunakan badan jalan sebagai parkir.

**

PERATURAN Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 44 ayat (1) menyatakan, lahan untuk bangunan satuan pendidikan, seperti lahan praktik, lahan untuk prasarana penunjang, lahan pertamanan untuk menjadikan satuan pendidikan suatu lingkungan yang secara ekologis nyaman dan sehat.

Tidak ditemukan kata parkir dalam pasal tersebut. Begitu pula pada pasal-pasal selanjutnya dari PP tersebut. Tidak ada kata lahan parkir yang menjadi keharusan pengelola perguruan tinggi mengadakannya. “Baik lokal maupun nasional memang tidak ada standar baku untuk masalah parkir di perguruan tinggi atau sekolah,” ujar Ir. Denny Zulkaidi, dari Kelompok Keahlian Perencanaan dan Perancangan Kota .

Situasi kampus berbeda dengan wilayah komersial. Dalam aturan wilayah komersial, terdapat aturan bahwa setiap 50 meter persegi suatu tempat harus memiliki satu tempat parkir. Luasnya 25 meter2 untuk kendaraan roda empat. Di rumah sakit luas parkir dihitung dari 65 meter2 per luas lantai kotor. “Sedangkan kampus atau sekolah belum ada aturannya,” katanya.

Kondisi ini berbeda dengan 20 tahun sebelumnya. Zaman dulu, motor bisa dibilang barang mewah buat mahasiswa. Orang dulu mungkin cukup dengan jalan kaki atau naik sepeda ke kampus. Pemakai mobil baru dosen dan pejabat kampus.

Kondisi sekarang sudah jauh berbeda. Ada konsekuensi tertentu dari perkembangan situasi pendidikan. Sejak ITB melakukan Ujian Saringan Masuk (USM) yang berharga puluhan juta rupiah, mendorong mobilitas mahasiswa dari keluarga kaya untuk masuk ITB. Lantas dengan alasan jarak, mereka dibelikan mobil untuk dibawa ke kampus.

Tidak hanya di ITB, kampus negeri seperti Unpad setelah membuka pintunya lebar-lebar penerimaan mahasiswa baru, menyebabkan tidak ada ruang untuk bernapas di lapangan parkir utara dan selatan. Penuh dan sesak. Mahasiswa yang masuk dengan uang pangkal belasan sampai puluhan juta rupiah itu, enggan naik angkutan kota . “Salah satunya karena memang makin banyak mahasiswa bermobil datang ke kampus. Jumlahnya makin mencolok ketika kebijakan penerimaan berubah. Namun, kenyataan itu tidak didukung luas tanah yang ada sehingga tidak ada tempat untuk menampung kendaraan mereka,” ujar salah seorang mahasiswa.

Unpad sempat terkenal sebagai “biang kerok” kemacetan di wilayah Dipati Ukur. Terlebih pada saat melakukan wisuda. Sejak kebijakan wisuda diubah menjadi tiga hari, soal kemacetan mulai bisa teratasi. “Kita sedang memikirkan solusi parkir di Kampus Unpad. Bukan tidak mungkin kami mencari tempat-tempat khusus untuk parkir mahasiswa,” kata Rektor Unpad, Prof. Dr. Ganjar Kurnia.

Menghadapi masalah dan mencari solusi ini juga sedang dilakukan oleh kampus-kampus lain yang telah dihubungi Kampus. Termasuk pula bagi kampus swasta seperti Universitas Katolik Parahyangan. “Kami mungkin mencarikan solusinya dengan bekerja sama dengan pihak ketiga karena tidak mungkin lagi membangun gedung parkir khusus mobil di dalam kampus,” kata Wakil Rektor bidang IV (Organisasi dan Sumber Daya Manusia), Ismadi S. Bekti .

Namun, para pejabat kampus sebenarnya berharap bahwa mahasiswa tidak perlu membawa kendaraannya ke dalam kampus. Mereka lebih menyarankan mahasiswa naik angkutan kota. “Saya sependapat kalau mahasiswa naik sepeda saja. Tetapi memang, harus didukung sarana kota yang menyediakan jalur khusus pengguna sepeda,” ujar Ganjar. Pernyataan itu sejatinya mengimperatifkan urgensi sinergi kebijakan tata kota yang prolingkungan serta kebijakan birokrat kampus untuk mendidik kepekaan sosial mahasiswa.

**

SENGKARUT parkir dan kemacetan di lingkungan kampus memang ironi tersendiri. Di satu sisi perguruan tinggi diharapkan memberi solusi pada masalah lalu lintas Kota Bandung yang kian krisis. Namun, di sisi lain kampus mengalami situasi yang sama. Perang argumentasi kepentingan antara mahasiswa dan pejabat kampus soal parkir bisa memakan waktu.

Prof. Ir. Ofyar Zainuddin Tamin, pakar transportasi dari ITB, menyarankan kampus-kampus untuk melakukan lalu lintas binaan di lingkungannya. Hal yang tengah dilakukan di ITB adalah dengan membuat kawasan jalan yang mengelilingi kampus tersebut, seperti, Jln. Ganeca, Tamansari, dan Ir. H. Djuanda.

Secara sederhana, penjelasan dari konsep tersebut adalah mengoptimalkan angkutan kota, meminimalkan kendaraan pribadi yang melewati Jln. Ganeca, dan menyediakan halte khusus berhenti angkutan. Optimalisasi angkutan kota berkaitan dengan penyediaan halte, tempat khusus para sopir angkutan harus menurunkan penumpang di lima titik yang akan disediakan. Tidak di sembarang titik. Di Jln. Ganeca, Jln. Tamansari, dan Jln. Dayang Sumbi, misalnya.

Setiap halte akan terhubung dengan jalur pedestrian dalam kampus yang dinaungi kanopi. Jalur tersebut akan menghubungkan ke tiap gedung kuliah, laboratorium, dan tempat kerja lainnya. Sementara itu, mobil pribadi yang menumpuk di Jln. Ganeca akan dialihkan ke jalur lain, misalnya, ke Jln. Gelap Nyawang. Kendaraan yang bisa melintas depan gerbang utama kampus tersebut hanya angkutan kota dan yang akan memasuki area dalam ITB.

Area parkir di bahu jalan akan dibersihkan. Solusinya, kampus akan bekerja sama dengan pengelola Kebun Binatang dan kantor Badan Atom Nasional (Batan). Setelah dihitung, di dua tempat ini mampu menampung 100-150 kendaraan per harinya. “Usaha ini tidak akan bisa tanpa kerja sama dengan pemerintah kota. Pemkot juga harus mau memperbaiki sarana transportasi umum (public transportation) yang bersifat massal. Namun, yang lebih penting adalah mengubah budaya mahasiswa dan masyarakat secara umum. Kalau memang jaraknya dekat, masih bisa jalan kaki dan tidak perlu pakai kendaraan,” ujar Koordinator Satuan Tugas Lalu Lintas ITB ini.

Persoalannya, memang, belum ada sistem transportasi massal yang baik di Kota Bandung. Akan tetapi, yang terpenting, bisakah mahasiswa menyadari masalah ini dengan mengurangi intensitasnya membawa kendaraan pribadi? Kepekaan sosial menjadi kata kuncinya.***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: